đź“– Membaca
Kunci: Budaya Hidup Keluarga
Bagaimana gereja kita dapat mengembangkan budaya terlibat dalam misi Tuhan secara berkelanjutan?
Gereja kita harus berpindah dari “misi” sebagai topik khotbah ke membangun hubungan yang mendalam sebagai keluarga Allah, yang meluapkan kasih bagi komunitas kita.
Bayangkan sebuah air mancur tiga tingkat. Hubungan pribadi kita dengan Tuhan dilambangkan dengan tingkat teratas air mancur itu. Inilah hubungan terpenting yang kita miliki di dalam Kerajaan Allah. Inilah sumber kehidupan baru yang kekal dari Tuhan bagi kita! Bayangkan kehidupan itu terpancar keluar dari sumbernya dan mengisi diri kita hingga penuh dan meluap. Kehidupan kita menjadi melimpah dan berubah oleh karena Tuhan, tetapi kehidupan baru dari-Nya ini tidak dimaksudkan untuk kita alami sendirian saja. Ini dimaksudkan untuk meluap. Sama seperti air mancur tiga tingkat, kasih Tuhan meluap dari tingkat pertama ke tingkat kedua.
Tingkat kedua ini melambangkan keluarga Allah. Kasih Tuhan meluap keluar dari hubungan pribadi kita dengan-Nya, yang menghasilkan kehidupan bersama di dalam komunitas sebagai keluarga-Nya. Kini kita menemukan kehidupan baru dari Tuhan itu bersama-sama! Apa yang Anda pelajari dari Tuhan berdampak pada bagaimana saya pun bertumbuh bersama Tuhan. Hubungan saya dengan Tuhan menolong Anda untuk bertumbuh dalam hubungan Anda sendiri dengan Tuhan. Selain itu, sebagai keluarga Allah, kita berkesempatan untuk mengalami kehidupan baru dari-Nya bersama-sama, seperti yang kita lihat di sepanjang Perjanjian Baru. Kisah Para Rasul 2 menggambarkan keindahan hubungan orang-orang dengan Tuhan yang meluap ke dalam kasih yang saling dipraktikkan bagi mereka satu sama lain.
Ketika jemaat mula-mula di Kisah Para Rasul 2 mencari Tuhan, hubungan mereka satu sama lain pun mulai berubah. Mereka mulai menjual milik mereka masing-masing demi memastikan kebutuhan setiap orang tercukupi. Mereka makan bersama di rumah-rumah satu sama lain. Mereka hidup bersama setiap hari.
Dalam Kerajaan Allah, Bapa surgawi kita sedang memimpin kita untuk secara aktif hidup bersama sebagai keluarga-Nya, rumah-Nya, Tubuh Kristus, dan Mempelai Kristus.
Saat kita bertumbuh dalam hubungan yang makin mendalam dengan Dia dan satu sama lain, kita pun belajar mengalirkan luapan kehidupan Kerajaan Allah itu ke lingkungan dan kota kita. Ini dilambangkan dengan air mancur tingkat kedua yang meluap ke tingkat ketiganya. Kasih yang kita saling bagikan di antara kita itu memperlengkapi kita untuk mengalirkan luapannya ke komunitas-komunitas lokal kita.
Air mancur tiga tingkat yang meluap adalah gambaran yang membantu kita membayangkan luapan kasih Tuhan dari diri kita, ke sesama orang percaya, dan ke komunitas kita. Namun, ada tantangannya. Kita menemukan bahwa gereja-gereja di seluruh dunia saat ini bergumul untuk menjangkau tingkat ketiga itu dengan budaya bermisi yang sungguh-sungguh hidup.
Anggapan yang sering muncul ialah bahwa umat Tuhan harus diutus sendirian untuk menemukan sendiri bagaimana cara “melakukan” misi-Nya. Padahal, jika komunitas gereja kita belum mengalami saling mendoakan, makan bersama, saling membagikan berita injil, atau membangun persahabatan yang mendalam, bagaimana mungkin kita dapat berharap kita mampu mereproduksi praktik-praktik bermisi ini ketika kita diutus?
Ketika kita saling mendoakan, kita dilatih agar siap untuk mendoakan sesama.
Ketika kita saling melayani, kita diperlengkapi untuk melayani kota kita.
Ketika kita membahas berita injil bersama-sama, kita dipersiapkan untuk membahas berita injil di dalam percakapan-percakapan lainnya.
Apa pun hasil yang kita ingin saksikan terjadi dalam misi, hal itu harus pertama-tama kita praktikkan bersama lebih dahulu sebagai keluarga Allah.
Sebagai keluarga Allah, kita harus senantiasa bertumbuh dalam hubungan yang mendalam dengan saling melayani. Ini bukan saja pengalaman autentik budaya Kerajaan Allah, tetapi juga latihan yang memperlengkapi kita menuju keberhasilan untuk meluapkan kasih Tuhan kepada sesama.
Apa yang kita alami bersama itulah yang akan meluap dan kita alirkan ke komunitas kita.
Praktik-praktik apa yang dapat menolong kumpulan persekutuan lokal kita dalam keluarga Allah untuk saling merayakan sukacita, berempati dalam duka, berbagi, berdiskusi, berdamai, melayani, dan belajar?
