đź“– Membaca

Kunci: Ciptakan ruang netral

Apa kesempatan terbesar kita untuk memaksimalkan terjadinya interaksi dengan Yesus?

Kita harus beralih dari membangun komunitas hanya di dalam “empat tembok gereja” ke membangun komunitas transformasi di seluruh lingkungan dan kota kita. 

Mari mulai dengan mendefinisikan apa yang dimaksud dengan “komunitas transformasi”. Komunitas transformasi adalah sekumpulan orang yang belajar, membangun persahabatan, dan melayani kota mereka bersama-sama. Namun, kunci terjadinya pertumbuhan dan dampak dari sebuah komunitas transformasi adalah penggunaan ruang yang netral.

Jika satu-satunya komunitas yang kita tawarkan untuk orang-orang bergabung adalah lingkungan komunitas Kristen, kita akan kehilangan kesempatan menjangkau kebanyakan orang di wilayah kita. Hal ini berbeda-beda tergantung pada budayanya, tetapi sering kali tanpa kita sadari, kebanyakan orang di komunitas kita tidak nyaman atau tidak ingin berada di dalam lingkungan yang jelas-jelas Kristen. Nah, seperti yang kita telah amati di langkah meluap, lingkungan Kristen memang diperlukan untuk menumbuhkan hubungan yang lebih mendalam dengan Tuhan dan keluarga-Nya, tetapi lingkungan untuk menyanyikan lagu penyembahan, mempelajari bacaan-bacaan Alkitab, dan berdoa bersama merupakan lingkungan yang sulit bagi orang-orang yang belum terbiasa dengan hal-hal itu.

Tentu saja, ini bukan berarti kita perlu menghentikan ajakan kepada orang-orang untuk bergabung dengan lingkungan yang berfokus pada kegiatan-kegiatan rohani yang dapat membantu mereka mengenal dan mengalami Tuhan dengan cara-cara yang penuh kuasa! Namun, ini berarti kita harus sungguh-sungguh memikirkan lingkungan bagaimana yang dapat memaksimalkan terjadinya interaksi dengan Yesus bagi orang-orang di lingkungan dan kota kita. 

Lingkungan yang berupa ruang netral adalah lingkungan yang tidak mewajibkan siapa pun yang berpartisipasi untuk memutuskan pindah/masuk agama atau melakukan praktik Kristen yang khas. Komunitas ruang netral dapat menjadi tanah terbaik untuk menanam benih injil, tetapi kita pun perlu paham cara menciptakannya.

Bayangkan seorang pelukis di hadapan kanvas kosong. Saat sang pelukis bersiap untuk mulai melukis, sebenarnya dia hanya perlu tiga warna dasar untuk menghasilkan sebuah lukisan yang indah. Dengan warna merah, kuning, dan biru saja, dia dapat membuat berbagai campuran warna untuk menciptakan warna-warna baru yang ajaib dan menghasilkan sebuah karya seni yang unik. Dari tiga warna dasar itu saja, ada lukisan mahakarya yang dapat dihasilkan.

Sama seperti tiga warna dasar dalam lukisan, ada tiga cara dasar untuk menciptakan ruang netral; belajar, persahabatan, dan melayani bersama-sama. Dan, sama pula seperti warna-warna itu, saat ketiga unsur ini dicampurkan dalam perpaduan, kita dapat melihat Tuhan menciptakan lukisan yang indah dalam wujud sebuah komunitas transformasi.

Mari kita lihat ketiga unsur ini satu per satu.

Komunitas Belajar

Di seluruh kota-kota kita, begitu banyak orang sedang ingin belajar sesuatu! Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti, “Bagaimana caranya menjadi orang tua yang lebih baik?”, “Bagaimana caranya menjadi suami/istri yang lebih baik?”, “Bagaimana cara pengelolaan keuangan pribadi yang lebih baik?”, atau “Keterampilan-keterampilan kerja baru apa sajakah yang dapat saya pelajari?”

Di dalam komunitas gereja, sering kali kita menciptakan lingkungan Kristen untuk menjawab persoalan-persoalan kehidupan yang penting ini. Membahasnya di dalam suasana komunitas keluarga Allah dapat menjadi cara yang esensial agar kita bertumbuh dalam bidang-bidang itu, tetapi kita juga dapat melihat bahwa orang-orang yang belum mengenal Yesus di seluruh kota kita sedang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mirip. Belajar bersama dalam ruang netral merupakan kesempatan yang telah dicari-cari oleh banyak orang. 

Sambil bertumbuh bersama orang-orang di Yerusalem, Yudea, dan Samaria kita, mari kita temukan hal-hal yang menjadi minat belajar bersama yang dapat membentuk komunitas belajar.

Komunitas Persahabatan

Saya yakin Anda pernah mendengar ucapan semacam, “Sekarang ini kita jauh lebih terhubung daripada masa-masa sebelumnya, tetapi kita juga jadi lebih kehilangan hubungan pribadi satu sama lain.” Terutama dalam kehidupan semasa pandemi global ini, orang-orang di kota kita sedang berupaya menemukan kembali cara berkomunitas secara tatap muka dengan teman-teman.

Kita mendapat peluang untuk memfasilitasi ruang koneksi bagi orang-orang dengan cara yang bermakna tetapi tanpa agenda khusus. Adakan saja kegiatan kumpul bersama hanya untuk menikmati kopi selepas hari kerja setiap Rabu, atau untuk bermain bola basket setiap Sabtu, atau untuk kegiatan memasak, menonton film, atau berolahraga bersama secara rutin; itulah hal-hal yang telah dicari-cari oleh banyak orang di kota kita. Persahabatan yang autentik tanpa agenda tetapi menumbuhkan koneksi yang nyata.

Sambil kita membangun hubungan yang lebih mendalam dengan orang-orang di komunitas lokal, mari perhatikan cara-cara menarik untuk dapat kita jadikan alat menciptakan komunitas persahabatan.

Komunitas Pelayanan

Kita semua tentu ingin membuat sebuah perbedaan. Di kota kita masing-masing, orang dapat dengan mudah mengenali sisi yang rusak. Ada saja hal-hal yang tidak berada dalam kondisi seharusnya. Entah kita telah mengenal Yesus atau belum, kita semua pasti ingin memiliki komunitas tempat tinggal yang aman, saling terhubung, dan sehat. Inilah kesempatan besar kita untuk membangun komunitas.

Ketika kita mengajak orang-orang dari Yerusalem, Yudea, dan Samaria kita untuk melayani bersama, kita akan mendapati jalinan ikatan dan pengalaman khusus yang hanya ada di dalam partisipasi bersama dalam kepentingan yang lebih besar melampaui diri kita sendiri. Ini seperti yang diucapkan oleh tim Serve the City, “Jika banyak orang melakukan hal-hal kecil bersama-sama, akan ada perbedaan besar yang terjadi!” Memperhatikan kebutuhan mereka yang kekurangan bukanlah sekadar kesempatan untuk menabur benih atas kehidupan orang-orang yang dilayani, tetapi juga untuk menyinarkan terang di dalam diri kita kepada orang-orang yang melayani bersama kita.

Saat kita belajar mengenal hal-hal yang penting bagi orang-orang di kota kita, mari bangun komunitas pelayanan yang akan menjadi wadah untuk kita membuat perbedaan bersama-sama.

Komunitas belajar, persahabatan, dan pelayanan merupakan kesempatan amat besar bagi kita untuk mengundang orang-orang dari Yerusalem, Yudea, dan Samaria kita menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar bersama-sama! Lalu, sama seperti pelukis tadi meracik ketiga warna dasar, kita pun perlu memperhatikan bagaimana kita dapat meramu ketiga unsur bidang komunitas ini menjadi suatu perpaduan. Mungkin, orang-orang yang minum kopi bersama kita setiap minggu ingin ikut melayani sebagai sukarelawan bersama-sama. Mungkin, orang-orang yang menjalin hubungan dengan kita dalam pelayanan bersama juga tertarik untuk belajar suatu keterampilan baru bersama. Sekali lagi, saat kita menyaksikan ketiga unsur komunitas ini berpadu secara unik, itulah yang kita sebut komunitas transformasi. 

Dalam komunitas transformasi, sesama kita menyaksikan iman kita dalam wujud tindakan nyata. Secara khusus, bagi mereka yang tidak nyaman untuk bergabung dengan lingkungan yang jelas-jelas Kristen, komunitas transformasi akan menjadi kesempatan terbaik kita untuk memaksimalkan terjadinya interaksi dengan Yesus!

Mari kita ingat kembali perumpamaan tentang penabur. Petani itu menaburkan benih di jalan, bebatuan, dan semak duri, selain di tanah yang baik. Dalam kisah itu, Yesus terutama menjelaskan bagaimana orang-orang akan menanggapi Firman Tuhan yang disampaikan atas kehidupan mereka. Namun, bayangkan jika pada kesempatan berikutnya si petani menabur benih, dia telah mempersiapkan lahannya dan membuka sebidang tanah yang baik. Bagaimana hasilnya kalau dia telah membersihkan lahan itu dari semak duri dan bebatuan? Lalu, dia menabur benih atas tanah yang baik yang telah dipersiapkannya secara strategis itu. 

Ini merupakan perspektif lain untuk memahami perumpamaan itu, sekaligus pengingat yang penting bagi kita tentang betapa seriusnya misi itu. Jika kita tidak sungguh-sungguh menyiapkan tanah yang baik, kita bisa saja menjadi petani yang asal menabur benih ke mana-mana dan benih itu jatuh di jalan, bebatuan, dan semak duri sementara kita merasa telah menyelesaikan tugas karena sudah menyampaikan pesan injil. Jika kita menabur kepada orang-orang yang paling kita kasihi dalam kehidupan kita, seperti keluarga atau sahabat-sahabat dekat kita, tentu kita tidak akan rela melakukan upaya yang asal-asalan dan bersifat “tabrak lari”. Sebaliknya, mari kita pikirkan baik-baik dan usahakan seefektif mungkin sesuai kapasitas kita untuk menyiapkan tanah yang baik bagi benih injil. Dalam konteks menanam benih Firman Tuhan, komunitas transformasi merupakan lahan yang bersifat jangka panjang, relasional, senantiasa bertumbuh, autentik, dan berorientasi pada tindakan nyata.