đź“– Membaca

Kunci: Prioritas pada Pribadi

Bagaimana caranya agar budaya misi kita membawa lebih banyak orang untuk menjadi murid?

Kita harus beralih dari momen-momen misi yang bersifat transaksi ke perjalanan transformasi bersama orang-orang, dengan cara membangun hubungan yang lebih mendalam. 

Pemuridan adalah sebuah perjalanan. Setiap orang memiliki pengalaman, pertanyaan, dan perjalanannya sendiri yang unik dengan Tuhan. Maka, saat kita berkoneksi dengan orang, kita harus sungguh-sungguh datang dan berusaha mengenal perjalanan unik mereka masing-masing. Jika tidak demikian, kabar baik yang kita bawa akan menjadi bagaikan tawaran barang dagangan saja, atau tindakan kasih kita akan menjadi lebih berfokus pada diri kita dan bukan pada si penerima yang sedang kita jangkau.

Membangun hubungan yang lebih mendalam dengan orang-orang di Yerusalem, Yudea, dan Samaria kita perlu dipikirkan baik-baik menggunakan kacamata koneksi-koneksi sederhana. “Ayo kita bangun rumah sakit!” adalah salah satu cara untuk menolong orang-orang di Samaria kita, tetapi daripada memilih proyek yang besar dan anggaran yang besar, mari pikirkan kegiatan-kegiatan sederhana yang berbiaya rendah atau gratis untuk membangun hubungan. Ada begitu banyak contoh koneksi sederhana, yang saya yakin Anda akan segera terpikir, seperti berjalan kaki bersama, bermain olahraga, minum kopi, membuat karya seni, membersihkan lokasi tertentu, atau bahkan makan bersama. Namun, saat memikirkan berbagai bentuk koneksi sederhana seperti ini, kita harus sangat berhati-hati agar tidak mengutamakan momen transaksi di atas perjalanan transformasi.

Mari kita gunakan pizza sebagai contoh perbedaan misi yang bersifat transaksi dengan transformasi.

Jika kita punya pizza dan kita ingin menggunakannya untuk berkoneksi dengan orang-orang di komunitas kita, apa yang bisa kita lakukan? Salah satu idenya mungkin adalah memotong-motong lalu membagi-bagikan pizza itu untuk banyak orang. Saat kita membagikan potongan-potongan pizza itu, orang-orang akan senang. Mereka senang karena mendapat potongan pizza. Kita pun senang karena berhasil membuat mereka senang. Mungkin, kita bahkan bisa berfoto bersama dan mengabadikan wajah-wajah senang itu. Mereka akan pulang dengan senang, dan kita pun akan pulang dengan senang. Dalam momen-momen seperti ini, segala sesuatunya akan terasa sebagai kesuksesan yang menyenangkan! 

Padahal, kalau kita hanya membagi-bagikan pizza, berfoto bersama, lalu pulang dengan hati senang, sementara tujuan kita adalah pemuridan, kita sebenarnya telah kehilangan kesempatan untuk membangun hubungan. Dan, kehilangan hubungan berarti kehilangan pemuridan. 

Bagaimana kalau, daripada kita membagi-bagikan potongan pizza ke sebanyak mungkin orang yang kita bisa temukan, kita melihat kembali pelayanan kita dengan kacamata hubungan pribadi? Kita bahkan tetap bisa menggunakan sumber daya yang sama persis: pizza yang ada pada kita. Bagaimana kalau kita bawa pizza itu lalu kita duduk di meja di hadapan seseorang lalu makan pizza itu bersama dengan dia? Dengan saling mengenal secara pribadi, kita dapat mengetahui berbagai hal tentang keluarga mereka atau mungkin hal-hal yang menjadi motivasi mereka. Mereka pun dapat mengetahui kisah-kisah kita dan mendengar tentang Sosok yang menjadi inspirasi kehidupan kita. 

Berkoneksi dengan orang lain harus dipandang sebagai titik awal, bukan titik akhir. Fokus dalam waktu kebersamaan kita dapat dialihkan dari proyeknya menjadi orangnya. Misi Tuhan menilai orangnya lebih tinggi daripada proyeknya.

Saat kita berjumpa dengan orang-orang dari Yerusalem, Yudea, dan Samaria kita, kita harus berfokus pada menciptakan ruang untuk memperhatikan bagaimana cara Roh Kudus sedang membuka pintu bagi percakapan yang lebih mendalam. Sebagian orang mungkin bersedia langsung terbuka tentang kehidupan spiritual mereka, tetapi yang lebih sering terjadi ialah mereka tidak siap untuk langsung masuk ke dalam percakapan mendalam dari hati ke hati tentang kehidupan, jika tanpa adanya hubungan yang terjalin.

Melakukan perjalanan bersama orang lain dalam hubungan yang mendalam memberi kita kesempatan untuk membagikan kehidupan Kerajaan Allah melalui menjadi terang dan garam! Yesus berkata, “Biarlah terangmu bercahaya di hadapan orang agar mereka dapat melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di Surga.” Yesus menekankan pentingnya kehidupan bersama orang lain. Sebagai garam, kita diutus ke dalam komunitas kita untuk menjadi pembawa rasa kehidupan! Yesus pun berkata, “Aku datang kepada mereka untuk memberi hidup dan memberi hidup yang berkelimpahan.”

Saat orang melihat kita belajar, menunjukkan, dan menikmati kehidupan berkelimpahan yang meluap-lupa yang disebut Yesus itu, mereka dapat melihat wujud dari kehidupan yang baru itu. Kehidupan yang meluap sebagai garam dan terang menunjukkan kehidupan baru dari Tuhan, bukan hanya dalam perkataan tetapi juga dalam perbuatan. 

Ketika umat Tuhan membangun hubungan yang lebih mendalam di seluruh komunitas kita, kita akan menjadi orang-orang yang berusaha mengasihi, melayani, memberkati, merawat, dan menabur untuk kehidupan orang lain. Hal inilah yang menyiapkan tanah yang baik bagi benih injil.

Ketika kita mengasihi sesama dan membangun hubungan yang lebih mendalam dengan mereka, membagikan pesan injil tentang siapa itu Yesus dan apa yang telah dikerjakan-Nya bagi kita tidak menjadi kurang penting atau kurang genting sama sekali; justru, ketika kita mengikuti tuntunan Roh Kudus dalam hubungan dengan sesama, kita dapat melihat kesempatan-kesempatan membagikan Yesus dengan orang lain menjadi lebih dalam dan membawa kita ke perjalanan pemuridan. Salah satu cara yang membantu kita berpikir dalam proses mengikuti tuntunan Roh Kudus dalam hubungan adalah singkatan “I LOVE” (artinya dalam bahasa Indonesia: “saya mengasihi”).

Saat membangun hubungan yang lebih mendalam dengan sesama: 

I: Initiate conversation (berinisiatiflah memulai percakapan). Ajukan pertanyaan dan bukalah dialog. Lalu saat Roh Kudus membuka pintunya:

L: Listen to their story (dengarkan kisahnya). Berikan perhatian pada pengalaman hidup mereka yang unik. Saat Roh Kudus membuka pintunya:

O: Offer prayer (tawarkan diri untuk mendoakan). Temukan keterkaitan di antara kisah mereka dan kesempatan untuk mendoakan mereka. Lalu saat Roh Kudus membuka pintunya:

V: Vocalize the Gospel (sampaikan berita injil). Soroti siapa Yesus itu dan apa yang telah Dia kerjakan bagi mereka dalam hubungan langsung secara pribadi dengan mereka. Lalu saat Roh Kudus membuka pintunya:

E: Engage with a community invitation (lanjutkan hubungan dengan undangan ke dalam komunitas). Komunitas adalah salah satu cara terbaik untuk memaksimalkan terjadinya interaksi dengan Yesus. Kita akan membahasnya lebih jauh di materi berikutnya.

Ketika kita mengikuti tuntunan Roh Kudus, entah itu adalah percakapan pertama kita atau setelah terjalin hubungan sekian lama, keterampilan terbaik yang perlu kita asah ialah belajar memperhatikan pintu-pintu yang sedang Tuhan buka untuk terjalin hubungan yang lebih mendalam dengan sesama. Tugas kita bukanlah menampilkan kinerja yang baik. Berusaha menampilkan kinerja yang baik dalam beramal atau menginjil dapat membawa kita ke kehidupan yang hanya berfokus pada pekerjaan atau tanggung jawab keagamaan. Tuhan memanggil kita untuk menjadi taat dalam kerangka hubungan. Mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan kita. Lalu, mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Tuhan sedang menarik orang-orang mendekat kepada-Nya. Mari mengikuti pimpinan-Nya dengan berani, sabar, dan taat.

Ketika kita menempuh perjalanan bersama dengan orang-orang, biarlah kita belajar untuk memperhatikan siapa diri mereka secara unik, melayani mereka dengan dari kelimpahan, dan mengikuti tuntunan Roh Kudus dalam hal-hal yang dapat kita bagikan dengan mereka.