đź“– Membaca

Kunci: Arah yang Jelas

Bagaimana cara kita mengetahui siapa yang perlu kita prioritaskan dan layani dalam komunitas lokal kita?

Kita harus beralih dari jalur pelayanan yang tunggal atau acak ke fokus pada orang-orang yang menjadi perhatian Yesus dalam visi-Nya untuk misi para murid.

Di Kisah Para Rasul 1:8, Yesus memberi murid-murid-Nya rancangan terbaik untuk memahami arah yang harus mereka tuju dalam bermisi. Setelah mereka dimampukan oleh Roh Kudus, para murid akan mewakili Yesus di Yerusalem, Yudea, Samaria, dan ujung-ujung bumi. 

Kita dapat mengamati siapa saja orang-orang yang ada di empat tempat tersebut dalam konteks bagi para murid Yesus, untuk menemukan empat fokus misi kita di masa kini: 

Bagi para murid, Yerusalem adalah tempat mereka sendiri berada saat itu. Orang-orang yang sudah ada di dalam keseharian mereka. Orang-orang yang berinteraksi dengan mereka dan bersinggungan langsung dengan kehidupan mereka sendiri.

Maka, untuk misi Yerusalem kita, kita perlu melihat orang-orang yang sudah ada di dalam keseharian kita. Siapa saja orang-orang yang saat ini biasa berinteraksi dengan kita sehari-hari? Rekan-rekan kerja, keluarga, teman-teman, dan kenalan kita sudah ada di dalam kehidupan kita. Bagaimana jika Tuhan menempatkan kita di dalam kehidupan mereka agar kita menjadi terang dan garam bagi mereka? Kasih Yesus itu penuh dengan pelayanan dan pengorbanan. Bagaimana kita dapat melayani dan berkorban bagi mereka yang ada di dalam keseharian kita?

Kunci untuk memperdalam “misi Yerusalem” pribadi kita adalah kesadaran. Sebagai umat Tuhan, bagaimana kita dapat mengembangkan kesadaran ini bersama-sama? Saran kami adalah menggunakan Lingkaran Yerusalem. Sederhananya, Lingkaran Yerusalem adalah waktu konsisten untuk setiap orang di dalam komunitas gereja kita masuk ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk membahas bagaimana cara mereka menjadi terang dan garam terhadap orang-orang yang ada di dalam keseharian mereka masing-masing.

Setiap orang memiliki kehidupan misinya sendiri di lingkungan Yerusalemnya, tetapi kami juga mendorong agar kita menyasar Yudea serta Samaria dalam kerja bersama tim sebagai Tubuh Kristus.

Bagi para murid Yesus, Yudea adalah daerah di sekeliling mereka. Mereka sering berjalan di seluruh wilayah Yudea bersama Yesus serta dalam kehidupan mereka sendiri sebelum menjadi murid-Nya. Namun, pengutusan Yesus atas mereka sebagai duta-duta-Nya bagi Yudea mengubah cara pandang mereka terhadap orang-orang di wilayah itu.

Kita pun dapat memandang misi Yudea kita sebagai orang-orang di komunitas lokal kita. Ini bisa jadi merupakan lingkungan tempat tinggal kita atau daerah tertentu di dalam kota kita. Beberapa pemimpin gereja bertanya, “Apa perbedaan yang terjadi di lingkungan tempat tinggal kita setelah kita ada di sini sebagai perwakilan Kerajaan Allah? Jika kita meninggalkan lingkungan ini, apakah orang-orang akan merasakan ada yang hilang?” 

Ini merupakan pertanyaan yang sulit, sekaligus kesempatan yang nyata untuk mempertajam perspektif misi Yudea kita. Tuhan sedang bergerak di seluruh dunia dan ini berarti termasuk di lingkungan tempat tinggal Anda! Namun, ini juga berarti orang-orang di sekeliling kita perlu berjumpa dengan kita sebagai perwakilan Yesus, sekaligus kita pun perlu aktif membangun jembatan di seluruh komunitas kita dan menjadi terang dan garam. Bagaimana cara kita mulai melakukan hal ini?

Kunci untuk menumbuhkan misi Yudea adalah menciptakan infrastruktur Kerajaan Allah. Istilah “infrastruktur” memang terkesan kurang cocok dengan topik hal-hal rohani, tetapi cobalah bayangkan bahwa Anda dapat mengamati peta lingkungan Anda dan melihat sistem aliran listrik serta air yang melintasi seluruh wilayah sehingga menjamin akses pasokan listrik dan aliran air yang dapat diandalkan. Sebagai umat Tuhan, kita perlu menciptakan jalur-jalur Kerajaan Allah melintasi seluruh wilayah lingkungan kita. Kita tentu ingin memastikan bahwa setiap orang mendapat akses ke contoh nyata kehidupan umat Tuhan yang bergerak. Bagaimana cara kita dapat melakukannya? 

Ada dua cara: memberkati lingkungan kita dalam konteks tempat tinggal fisik serta budaya. Kita dapat memulainya dengan lingkungan tempat tinggal fisik, yaitu mencari cara untuk memberkati orang-orang yang berada terdekat di sekeliling kita. Siapa saja orang-orang yang tinggal di rumah-rumah yang dapat kita lihat langsung dari pintu tempat kita berkumpul? Bagaimana caranya kita dapat melayani mereka? Atau, dalam konteks budaya, pikirkan tujuh bidang budaya. Seni dan hiburan, bisnis, agama, media, pendidikan, keluarga, dan pemerintahan. Bagaimana caranya kita dapat menciptakan hubungan yang memberkati di dalam bidang-bidang budaya ini, agar orang-orang di dalamnya dapat mengalami langsung kehadiran Kerajaan Allah di dalam kehidupan mereka?

Nah, berikutnya, Samaria adalah lingkaran yang penting untuk kita pahami. Yesus mengutus para murid-Nya ke Samaria. Saya sendiri bisa membayangkan bahwa murid-murid Yesus menahan rasa jengkel dan mata mereka terbelalak saat Yesus berkata akan mengutus mereka ke Samaria. Mengapa? Samaria adalah wilayah yang tertutup tembok penghalang sosial yang tebal bagi para murid Yesus. Konon pada masa itu, orang-orang lebih memilih menempuh perjalanan yang lebih lama dengan berjalan memutar di luar batas wilayah Samaria agar tak perlu melintas di dalam wilayah itu dan bertemu langsung dengan orang Samaria.

Ketika kita berpikir tentang misi Samaria kita sendiri di masa kini, mungkin lingkaran ini terlalu mudah untuk kita kenali. Siapa saja orang-orang yang kita lebih suka hindari hingga kita rela “berjalan memutar” daripada harus bertemu langsung? Kelompok-kelompok manakah yang kita harapkan agar orang lain saja yang dipanggil untuk melayani di sana? Dalam Matius 25, Yesus menegaskan bahwa melayani “yang terkecil di antara mereka” bukanlah hanya terkait dengan misi yang meluap keluar, melainkan juga merupakan pelayanan yang langsung tertuju kepada diri-Nya sendiri.

Almarhum Hal Jones, seorang pemimpin besar di bidang pengembangan desa, pernah berkata, “Saya ingin memastikan bahwa gadis kecil yang termalang, di sudut tergelap di kampung yang terbelakang di negara yang termiskin, berjumpa dengan pengharapan dan pertolongan Yesus.” Hal percaya bahwa di dalam kelompok-kelompok yang termalang, yang berkekurangan, yang terpinggirkan, yang terlupakan, dan yang terkecil di antara mereka itu, ada individu-individu yang berharga. Merekalah orang-orang yang sangat dikasihi Tuhan, sehingga Tuhan sedang mengutus anggota-anggota keluarga-Nya untuk merawat mereka.

Sebuah organisasi sukarelawan yang luar biasa bernama Serve the City berkata, “Kita telah mengenal mereka dengan label kebutuhan mereka. Bagaimana kalau sekarang kita juga mengenal mereka dengan nama-nama mereka langsung?” Bagaimana kalau kita pun tidak lagi mengutamakan label kategori seperti kelompok tunawisma, lansia, pengungsi, korban penyiksaan, orang cacat, anak berkebutuhan khusus, lalu mulai mengenal setiap individu orang yang menjadi perhatian Tuhan itu? Bagaimana kalau kita pun menemukan gadis kecil yang malang di sudut tergelap di daerah yang paling terlupakan di kota kita itu, lalu kita membagikan pengharapan dan pertolongan dari Yesus untuknya?

Kunci untuk mengembangkan misi Samaria kita adalah nama. Siapa saja orang-orang yang kita hanya kenal dengan label kebutuhan mereka? Untuk memulainya, kami menyarankan agar Anda mencari “orang damai”, yaitu orang-orang yang telah bergerak melayani mereka yang membutuhkan, seperti organisasi-organisasi nirlaba atau amal. Duduklah bersama para pemimpin organisasi tersebut dan diskusikan cara-cara untuk membangun hubungan nyata dengan orang-orang yang membutuhkan itu. Kita akan membahas hubungan-hubungan ini dengan lebih mendalam di langkah selanjutnya.

Setelah Yesus menunjukkan tiga tempat spesifik yang secara strategis menghubungkan para murid dengan berbagai kelompok orang, tugas berikutnya dari-Nya bagi para murid ialah “di mana-mana selain tempat-tempat itu”!  

Bagi kita saat ini, misi ujung-ujung bumi dapat juga dipandang dengan perspektif serupa. Setelah mengembangkan misi Yerusalem, Yudea, dan Samaria, bagaimana caranya kita dapat mereproduksi apa yang telah kita pelajari ke seluruh dunia? 

Ada jutaan cara untuk melakukan pendekatan yang menjangkau “semua tempat lainnya”. Mari kita mulai dengan dua cara.

Pertama; utus orang-orang untuk mereproduksi budaya Yerusalem, Yudea, dan Samaria yang telah mereka alami di dalam komunitas gereja Anda. Jika orang merasa dipanggil untuk melayani di tempat lain mana saja, memiliki pengalaman praktis dalam hal hidup bermisi bagi orang-orang yang mereka jumpai sehari-hari, menjadi terang dan garam di lingkungan mereka, serta melayani kaum yang terkecil di kota mereka akan menjadi bagian kritis dalam persiapan ini. Kali ini, prinsip meluap pun tetap berlaku. “Ujung bumi: dapat berarti kota tetangga atau negara lain. Makin berbeda budayanya dengan budaya Anda sendiri, lebih kritis lagi agar Anda mencari nasihat dari mereka yang lebih berpengalaman atau profesional dalam prosesnya.

Kedua; berdoalah dan mulailah berkoneksi dengan jaringan pelayanan global. Meski Anda tinggal di negara tertentu yang memiliki sejarah, batasan, serta tingkat pengenalan sendiri dengan Yesus, di masa kini adalah hal esensial untuk terkoneksi dengan pekerjaan Tuhan di seluruh dunia. Di era informasi dalam masa hidup kita ini, kita kini mempunyai kemampuan untuk mengetahui kebutuhan-kebutuhan doa yang penting dari seluruh dunia. Memahami bagaimana kita dapat ikut berdoa dan terlibat dengan krisis dunia, kemiskinan ekstrem, bencana alam, kelompok-kelompok yang belum terjangkau, serta kebutuhan spiritual yang beragam di seluruh dunia adalah informasi yang dapat jauh lebih mudah diakses daripada sebelumnya dalam sejarah.  Marilah kita menjadi orang-orang yang berdoa, memberi, dan pergi untuk menyaksikan perluasan Kerajaan Allah, baik secara mendalam dalam kasih maupun secara meluas dalam jangkauan. 

Catatan: Di bagian kedua dalam Pelatihan Aktivasi, kita akan diajak melakukan beberapa latihan untuk menumbuhkan kesadaran akan Yerusalem kita, berkoneksi di Yudea kita, serta mengenal nama orang-orang di Samaria kita.